
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pertanian adalah pengertian terhadap kegiatan menanami
tanah dengan tanaman tertentu yang diharapkan kemudian menghasilkan sesuatu
yang dapat dipanen. Kegiatan pertanian
merupakan campur tangan manusia dalam mengubah komunitas tumbuhan alami dan
siklus hidupnya. Dalam pertanian moderen campur tangan manusia semakin tinggi dalam bentuk
masukan bahan kimia pertanian dan pilihan keanekaragaman tanaman. Sistem
pertanian dibedakan antara sistem pertanaman tunggal dan pertanaman ganda. Pertanaman tunggal tidak mempunyai kendala di daerah yang
tercukupi kebutuhan air irigasinya atau curah hujan yang cukup, tetapi di
daerah lahan kering dengan curah hujan yang terbatas banyak mempunyai masalah. Masalah yang sering muncul adalah degradasi
tanah, kehilangan tanah karena erosi dan pencucian hara sehingga menyebabkan
penurunan hara makro dan mikro. Dalam kondisi ini pengembalian biomassa sangat sedikit
atau tidak ada baik secara langsung atau tidak langsung melalui kotoran ternak.
Masa depan pertanian di Indonesia sangat tergantung
pada keberhasilan atau kemajuan
teknologi pertanian lahan kering. Usaha
tani lahan kering banyak terletak pada daerah berlereng. Telah banyak diketahui bahwa di daerah
tropika basah, air adalah merupakan penyebab erosi tanah yang utama. Air hujan yang jatuh menimpa tanah-tanah
terbuka akan menyebabkan tanah terdispersi.
Sebagian air hujan tersebut mengalir di atas permukaan tanah, banyaknya
air yang mengalir di atas permukaan tanah tergantung pada kapasitas infiltrasi
tanah. Kekuatan merusak air yang
mengalir di atas permukaan akan semakin besar dengan makin curam dan makin
panjangnya lereng permukaan tanah
Perlakuan atau tindakan yang diberikan manusia terhadap
tanah dan tumbuh-tumbuhan akan menentukan produktivitas tanah. Dengan mengingat arti penting tanah untuk
proses produksi pertanian, maka suatu keharusan untuk mencegah dan melindungi
tanah dari segala bentuk kerusakan, agar dapat diperoleh produksi yang tetap
tinggi dalam waktu yang tidak terbatas. Pada lahan kering dengan kemiriringan
yang tinggi, maka perlu diterapkan sistem pertanaman yang mengkombinasikan
bersama tanaman yang mempunyai fungsi sebagai tanaman konservasi tanah. Pengembangan sistem pertanaman ini akan lebih
bermanfaat apabila melibatkan tanaman pakan sebagai sumber pakan. Keberadaan
ternak lebih lanjut akan berperan sebagai sumber tambahan pendapatan,
mengembalikan kotoran sebagai pupuk organik, memanfaatkan limbah tanaman
pertanian dan sumber tenaga kerja dalam membantu mengolah tanah.
1.2
Tujuan Dan Manfaat
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini
1. Melakukan
Pendekatan Secara Agroekosistem Berusaha Menanggulangi Kerusakan Lingkungan
Akibat Penerapan Sistem Pertanian Yang Tidak Tepat Akibat Penggunaan Masukan Teknologi.
2. Menghasilkan
penerapan metode yang berwawasan lingkungan tanpa merusah sistem Ekologi.
Adapaun
manfaat dalam penulisan makalah ini adalah
1. Agar
mampu melakukan pendekatan secara agroekosistem berusaha menaggulangi kerusakan
lingkungan akibat penerapan sistem pertanian yang tidak tepat akibat penggunaan
masukan teknologi.
2. Agar
mampu menghasilkan penerapan metode yang berwawasan lingkungan tanpa merusak
sistem Ekologi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Peran tanaman dalam konservasi
Pertanian
berwawasan lingkungan adalah
pengembangan sistem pertanian yang spesifik lokasi dengan mempertimbangkan
kondisi agroekosistem. Pertanian merupakan
kegiatan menanami tanah dengan tanaman tertentu yang diharapkan kemudian
menghasilkan sesuatu yang dapat dipanen.
Masa depan pertanian di Indonesia sangat tergantung pada keberhasilan atau kemajuan teknologi
pertanian lahan kering. Usaha tani lahan
kering banyak terletak pada daerah berlereng.
Telah banyak diketahui bahwa di daerah tropika basah, air merupakan
penyebab erosi tanah yang utama.
Perlakuan atau
tindakan oleh manusia terhadap tanah dan tumbuh-tumbuhan akan menentukan
produktivitas tanah. Mengingat arti
penting tanah untuk proses produksi pertanian, maka suatu keharusan untuk
mencegah dan melindungi tanah dari segala bentuk kerusakan, agar dapat
diperoleh produksi yang tetap tinggi dalam waktu yang tidak terbatas.
Pengembangan sistem pertanaman berpeluang untuk melibatkan sumberdaya tanaman
pakan. Keberadaan ternak lebih lanjut akan berperan sebagai sumber tambahan
pendapatan, mengembalikan kotoran sebagai pupuk organik, memanfaatkan limbah
tanaman pertanian dan sumber tenaga kerja dalam membantu mengolah tanah.
Salah satu cara
intervensi tanaman pakan dalam sistem pertanaman dapat dilakukan melalui sistem
tumpangsari. Penerapan sistem
tumpangsari mempunyai peluang besar melibatkan leguminosa tanaman pakan yang
sekaligus berfungsi sebagai penutup tanah.
Melalui pengaturan pola tanam, leguminosa tanaman pakan tidak menekan
hasil tanaman utama, kemampuan fiksasi nitrogen tanaman leguminosa antara 123 –
499 kg N/ha/tahun atau lebih dapat menggantikan kebutuhan pemupukan
nitrogen. Transfer nitrogen dari hasil
fiksasi nitrogen leguminosa ke tanaman lain selama pertumbuhan kurang
efektif. Cara meningkatkan efektivitas
transfer hasil fiksasi nitrogen ini dapat dengan menggunakan tanaman leguminosa
sebagai pupuk hijau, atau mengembalikan nitrogen dari kotoran ternak karena
tanaman leguminosa digunakan sebagai hijauan pakan bersama jerami tanaman
pangan.
2.2 Sumberdaya Tanaman Pakan
Pakan dapat dipandang sebagai
bahan baku yang dapat dikonsumsi oleh
hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan
energi dan atau zat nutrisi dalam ransum makanannya. Bagian besar pakan ketersediaannya tergantung dari tanaman pakan. Keberadaan sumberdaya tanaman pakan
dipengaruhi oleh unsur lingkungan baik
fisik maupun hayati yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pakan. Sistem
penyedian pakan di Indonesia mempunyai karakteristik ketergantungan terhadap
sistem pertanian yang ada di suatu wilayah.
Pengelolaan sumberdaya tanaman
pakan dimaksudkan sebagai usaha manusia dalam mengubah ekosistem sumberdaya
lingkungan produksi pakan agar manusia memperoleh manfaat yang maksimal dengan
mengusahakan kontinyuitas produksinya. Mengutip Bishop Toussaint dalam
Soeriatmadja (1981) sumberdaya
(resources) adalah input proses
produksi, sehingga sumberdaya pakan adalah ketersediaan input proses produksi
dalam usaha peternakan. Sedangkan
menurut Chapman dalam Soeriatmadja
(1981) sumberdaya adalah hasil penilaian manusia terhadap unsur-unsur
lingkungan, sehingga sumberdaya pakan adalah penilaian manusia terhadap
unsur-unsur lingkungan yang mendukung ketersediaan pakan. Penilaian terhadap unsur-unsur lingkungan
dalam sumberdaya pakan dapat dilakukan
dalam tiga tingkat, yaitu total ketersediaan, potensi dan cadangan riel. Ketersediaan total menyangkut unsur lingkungan yang mungkin sebagai
sumberdaya pakan jika dapat diperoleh meliputi lahan dan jenis komunitas
tanaman yang ada yang dapat diperuntukkan untuk penyediaan pakan. Potensi adalah bagian dari total
ketersediaan yang dapat diperoleh karena
tidak seluruh tidak seluruh yang tersedia dapat diperoleh untuk penyediaan
pakan. Demikian juga dari bagian potensi tidak seluruhnya dapat menjadi cadangan nyata karena hanya sebagian dari
sumberdaya yang diketahui pasti dapat diperoleh akibat kompetisi peruntukan
dengan kepentingan lain. Kelangkaan Sumberdaya
bisa terjadi karena terbatasnya ketersediaan sumberdaya pada suatu
tempat sehingga tidak memenuhi kebutuhan lokal atau wilayah tertentu (Yakin,
1997).
Kelangkaan juga bisa terjadi
karena sumberdaya tersebut hanya terkonsentrasi di suatu tempat tetapi
dibutuhkan di tempat lain, karena proses distribusi yang terhambat. Kelangkaan bisa juga terjadi karena digunakan
secara terus menerus dari waktu ke waktu sehingga stok menjadi berkurang atau
habis.
Pemasalahan kelangkaan
sumberdaya tanaman pakan karena 1) Potensi tergantung pada system pertanian
yang ada, 2) Ketersediaan berfluktuasi tergantung musim dan pola produksi, 3) Sejumlah sumberdaya tanaman pakan
mempunyai nilai manfaat rendah. Aspek pertama perlunya mengenali sistem,
identifikasi sumberdaya potensial, identifikasi kesesuaian lahan, upaya-upaya
intervensi peningkatan potensi sumberdaya tanaman pakan baik jenis-jenis
(kualitatif) maupun ketersedian (kuantitatif). Pada aspek kedua perlunya
mengenali fluktuasi ketersedian tanaman pakan akibat adanya musim hujan dan
kemarau yang mempengaruhi pola produksi sehingga diperlukan upaya menjaga
kontinyuitas ketersediaan melalui tindakan-tindakan penganekaragaman sumberdaya
pakan. Selanjutnya karena sejumlah bahan pakan mempunyai nilai manfaat rendah
sehingga diperlukan upaya-upaya agar nilai manfaat meningkat.
Sumberdaya tanaman pakan pada umumnya
mengandalkan berbagai jenis tanaman hijauan pakan kelompok rumput-rumputan(Gramineae) dan leguminosa (Leguminoseae). Namun mengandalkan sumberdaya tanaman hijauan
pakan ini secara kuantitatif, kualitatif dan kontinyuitas sulit diharapkan
karena ketersediaan alokasi lahan yang diperuntukkan. Sumberdaya pakan yang potensial adalah
pemanfaatan limbah pertanian dan industri pertanian. Di daerah pertanian lahan kering dapat diharapkan
ketersediaan jerami padi, jerami jagung, pucuk tebu, juga jerami kacang tanah
dan kedelai, disamping hasil pengolahan hasil pertanian katul dan berbagai
bungkil
2.3 Pertanian
berwawasan lingkungan
Pendekatan
pertanian berwawasan lingkungan adalah pendekatan yang dimulai dengan
pendekatan ekosistem. Pertanian
berwawasan lingkungan didekati dengan prinsip hutantani (agroforestry) atau
pertanaman campuran dan perhatian khusu pada pasokan bahan organik sebagai
indikator. Pendekatan ekosistem pertanian selanjutnya dikenal sebagai
agroekosistem menekankan dua prinsip dasar akibat penerapan teknologi.
Agroekosistem berasal dari kata
sistem, ekologi dan agro. Sistem adalah
suatu kesatuan himpunan komponen-komponen yang saling berkaitan dan
pengaruh-mempengaruhi sehingga di antaranya terjadi proses yang serasi. Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal
balik antara organisme dengan lingkungannya. Sedangkan ekosistem adalah sistem yang terdiri dari komponen biotic dan
abiotik yang terlibat dalam proses bersama (aliran energi dan siklus nutrisi).
Pengertian Agro = Pertanian dapat berarti sebagai kegiatan produksi/industri biologis yang
dikelola manusia dengan obyek tanaman dan ternak. Pengertian lain dapat meninjau sebagai
lingkungan buatan untuk kegiatan budidaya tanaman dan ternak. Pertanian dapat
juga dipandang sebagai pemanenan energi matahari secara langsung atau tidak
langsung melalui pertumbuhan tanaman dan ternak (Saragih, 2000). Agroekosistem
dapat dipandang sebagai sistem ekologi pada lingkungan pertanian.
Pendekatan agroekosistem
berusaha menanggulangi kerusakan lingkungan akibat penerapan sistem pertanian
yang tidak tepat dan pemecahan masalah pertanian spesifik akibat penggunaan
masukan teknologi (Sutanto, 2002).
Masalah lingkungan serius di pedesaan dan pertanian adalah kerusakan
hutan, meluasnya padang alang-alang, degradasi lahan dan menurunnya lahan
kritis, desertifikasi, serta menurunnya keanekaragaman. Masalah lingkungan ini
sebagai akibat adanya lapar lahan seiring meningkatnya populasi penduduk,
komersialisasi pertanian, masukan teknologi pertanian dan permintaan konsumsi
masyarakat.
Tujuan pertanian berwawasan
lingkungan adalah mengembangkan sistem
pertanian yang spesifik lokasi dengan mempertimbangkan kondisi agroekosistem
(Widjajanto dan Sumarsono, 2005).
Melalui sistem ini diharapkan terjadi pengembangan sistem pertanian yang
sesuai dengan kondisi lingkungan. Sistem pertanian spesifik lokasi bertujuan
untuk meningkatkan produktivitas tanah sesuai kondisi agroekosistem dilandasi
masukan teknologi rendah, dan sekaligus memperbaiki keseimbangan ekosistem karena
memadukan aspek agronomi dan ekologi.
Komponen Agroekosistem adalah :
Petani., Lahan – tanaman, .Ternak. dan
Manajemen/teknologi. Pendekatan
agroekosistem dalam peternakan adalah pengembangan peternakan dalam keterpaduan
wilayah pertanian spesifik. Dengan
demikian pendekatan agroekosistem dalam pengelolaan sumberdaya pakan adalah
pengelolaan potensi dan pemanfaatannya dalam keterpaduan wilayah pertanian dan
pengembangan peternakan. Kepentingan pendekatan agroekosistem adalah : 1)
Keterpaduan komponen AES untuk kepentingan ekonomis, 2) Keterpaduan komoditas untuk proses
produksi hulu ke hilir 3) Keterpaduan
wilayah untuk kelestarian lingkungan hidup / sumberdaya alam.
2.4 Intervensi Tanaman Pakan
a. Pola Tanam Tumpangsari
Pola tanam tumpangsari adalah suatu pertamanan dua jenis
atau lebih tanaman cultivar pada bidang tanah dan waktu yang sama dengan
membentuk baris – baris yang teratur untuk tiap jenis tanaman (Thahir, 1985).
Pola tanam tumpangsari dapat dengan cara penambahan atau cara penggantian sebagian
populasi tanaman utama. Beets (1982) menegaskan bahwa, pola tanam tumpangsari
adalah bentuk pertamanan campuran antara jenis – jenis tanaman yang ditanam
dalam jarak dan baris – baris yang teratur. Salah satu bentuk pola tanam
tumpangsari termasuk juga pertamanan campuran antara tanaman ekonomi dengan
tanaman makanan ternak (Humphreys, 1979).
Pertanaman campuran yang termasuk di dalamnya adalah pola
tanam tumpangsari. Pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas
tanah, karena meningkatnya jumlah energi radiasi matahari yang mampu ditangkap
oleh tajuk tanaman (Soeriatmadja, 1981; Ofori dan Stern, 1987). Menurut Wahua
dan Miller (1978), pola tanam tumpangsari sangat populer di kalangan petani
skala kecil di daerah tropika dan sub-tropika, karena (1) memberikan imbangan
suplai nutrisi, energi dan protein, (2) memaksimumkan keuntungan dan penggunaan
sumberdaya lingkungan, (3) sebagai kontrol terhadap tanaman pengganggu, (4)
menekan risiko usaha tani, dan (5) mempertahankan kesuburan tanah. Pertanaman
campuran juga mempunyai manfaat untuk mencegah erosi (Sitanala, 1983), untuk
mencegah kecenderungan peningkatan populasi hama (Sutater, 1981), dan sebagai
modifikasi penggunaan pupuk hijau (Rosa et
al, 1980; Kang, Wilson dan Sipkens, 1981). Shelton dan Humphreys (1975),
Humphreys (1979) dan Helsel dan Wedin (1981) memperoleh manfaat dari pertanaman
campuran tanaman pakan dan tanaman pangan untuk meningkatkan penyediaan hijauan
pakan dan meningkatkan efisiensi manfaat jerami dari tanaman utama.
Hasil per satuan luas dari masing – masing tanaman dalam
tumpangsari pada umumnya lebih rendah dibandingkan hasil dalam monokultur
(Donald, 1963 dan Trenbath, 1974). Walaupun demikian seringkali hasil per
individu tanaman masing – masing atau salah satu justru meningkat, sehingga
masing – masing atau salah satu menjadi lebih tinggi daripada pola tanam
monokulturnya. Keadaan ini bisa apabila yang ditumpangsarikan adalah jenis
leguminosa dan kesuburan tanahnya rendah (Agboola dan Fayemi, 1972; Ofori dan
Stern, 1987).
Ahmed dan Rao (1982) menunjukkan bahwa, pola tanam
tumpangsari tanaman jagung dengan kedelai dapat meningkatkan produktivitas
tanah. Nilai NKT tumpangsari jagung dan kedelai adalah 1.64 apabila tanpa
pemupukan nitrogen, dan diperoleh 1.42 apabila diberi pemupukan nitrogen sesuai
dosis rekomendasi. Hasil ini memperlihatkan bahwa, efisiensi biologis yang
diukur dari nilai NKT, pola tanam tumpangsari mempunyai efisiensi 64% dan 42%
lebih tinggi daripada monokulturnya.
Francis et al
(1982)a menyimpulkan dari tumpangsari jagung dengan kacang jogo (Phaseolus Vulgaris L) bahwa, kepadatan
tanaman kacang jogo tidak mempengaruhi hasil biji jagung, sebaliknya kepadatan
tanaman jagung menekan hasil biji kacang jogo. Peneliti yang sama juga
menyimpulkan bahwa, kompetisi sesama jenis (intra – specific) lebih kuat
daripada kompetisi antar jenis (inter – specific). Agustina (1980) yang
meneliti pada tanaman yang sama mendapatkan bahwa, apabila tanaman jagung
ditanam dengan jarak 120 cm antar baris, maka tanaman kacang jogo yang
ditumpangsarikan masih dapat menerima radiasi matahari 80% sampai 97% pada umur
65 hari setelah tanam.
Pola tanam tumpangsari disimpulkan sangat bermanfaat bagi
petani skala kecil karena mengalami kesulitan penyediaan pupuk nitrogen (Kang
et al, 1981; Ahmed dan Rao, 1982). Pola tanam tumpangsari antara tanaman
lamtoro dan jagung juga telah banyak dilaporkan, terutama dimaksudkan untuk
memperoleh pupuk nitrogen – organik dari daun lamtoro (Mendoza et al, 1981; Kang et al, 1981; Palled et al,
1983).
Mendoza
et al (1981) melaporkan bahwa, pemotongan pertama hijauan lamtoro menghasilkan
59 sampai 74 kg N/ha, penggunaannya sebagai pupuk hijau dalam tumpangsari
dengan jagung setara dengan 45 – 90 kg N / ha pupuk buatan. Kang et al (1981)
mendapatkan bahwa, pemotongan hijauan lamtoro menghasilkan 180 – 250 kg
N/ha/tahun, penggunabannya sebagai pupuk hijau dalam budidaya lorong mampu mempertahankan
produksi biji jagung 3.8 ton/ha. Rosa et al (1980) mendapatkan bahwa, tanaman
lamtoro yang ditanam diantara baris tanaman jagung dengan jarak tanam 100 cm
dengan kepadatan tanaman lamtoro 10, 15, dan 20 cm jarak tanam dalam baris,
dari pemotongan hijauan diperoleh berturut – turut 102, 115, dan 126 kg N / ha.
Penggunaannya sebagai pupuk hijau diperoleh dari tiga kali pemotongan, hasil
yang diperoleh dari biji jagung adalah 70, 73, dan 71 g per individu tanaman.
Hasil ini lebih tinggi dibandingkan tanpa pemupukan yang hanya diperoleh biji
jagung 49 g per individu tanaman. Hasil penelitian Sumarsono et al (1985) menunjukan produksi biji
jagung tumpangsari lebih tinggi dibanding tunggal yang menerima pupuk N rendah
(Tabel 1). Walaupun produksi jagung masih lebih tinggi dengan pemupukan N
tinggi (Sumarsono, 1989), tetapi produksi hijauan pakan dari lamtoro dan jerami
jagung diperoleh dalam tumpangsari jagung – lamtoro.
b. Peranan
Leguminosa
Suatu
pertanaman produktif setiap tahun menguras nitrogen sekurang – kurangnya 200
kg/ha dari tanah (Middleton, 1981). Kasus pada tanaman rumput yang mengandung
nitrogen 2 – 3 %, setiap 2 ton bobot kering hijauan memerlukan 50 kg N dari
tanah (Ahlgreen, 1956), Menurut
Whitehead (1970), rumput – rumputan setiap tahunnya dapat memproduksi nitrogen
180 – 238 kg/ha dalam hijauannya tergantung jenis tanamannya. Pertanaman ini
harus dipupuk dengan 326 kg N/ha/tahun, dengan rata – rata pemberian setiap
pemanenan 70 kg N, apabila pemanenan dilakukan 4 – 5 kali per tahun. Hasil
penelitian Vicente – Chandler, Figarella dan Silva (1961), dilaporkan bahwa
rumput pangola yang dipupuk 800 kg N/ha/tahun dengan interval pemotongan 60
hari diperoleh kadar protein kasar hijauan 10.8%.
Pemenuhan kebutuhan nitrogen dapat mengandalakan
leguminosa dalam pertanaman. Leguminosa hijauan pakan mampu mengikat nitrogen dari
udara antara 100 – 400 kg N/ha/tahun (Henzel dan Vallis, 1975). Varietas baru Leucaena Latisiliqua yang diseleksi di
Hawai dan Australia mampu menghasilkan 900 kg N/ha/tahun (Whitney, 1975). Pada
lingkungan terkontrol Stylosanthes
humilis mampu mencapai hasil 1,5 ton/ha/tahun (Whiteman, 1974). Desmodium intortum banyak digunakan di
Hawaii, dibuktikan mampu menghasilkan 400 kg N/ha/tahun (Whitney, Kanehiro dan
Skerman, 1967). Tanaman centro mampu mengfiksasi nitrogen minimal 123 – 132 kg
N/ha/tahun (Whitney et al, 1967).
Hasil tertinggi yang diperoleh peneliti adalah 269 kg N/ha/tahun. Menurut Moore
(1960), pada pertanaman campuran centro dengan Cynodon plectostachyus, Centro dapat menyumbangkan 280 kg
N/ha/tahun kepada pastura tersebut. Pada penelitian lain yang dilakukan oleh
Nutman (Frederick, 1978) didapatkan bahwa Centro mampu memfiksasi nitrogen
antara 126 – 395 kg N/ha/tahun dengan rata – rata 259 kg N/ha/tahun. Hasil
penelitian Sumarsono (1985) produksi nitrogen lamtoro, Stylo-Cook, dan
Stylo-Verano dalam tumpangsari dengan jagung adalah 324,87; 123, 37; dan 499,53
kg/ha (Tabel 1).
Tabel 1. Hasil
Penelitian Berbagai Sistem Tumpang Sari dengan Tanaman Pakan
|
Pola Tanam
|
Bijian Jagung
|
BK Pakan Kasar
|
BK Hijauan Legume
|
BK Pakan Kasar +
Hijauan
|
Produksi Nitrogen Legum
|
Referensi
|
|
|
. . . . . . . .
. . (ton/ha) . . . . . . . . . .
|
(kg/ha)
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Setaria1 - Centro
|
-
|
4,39
|
2,25
|
6,64
|
180.18
|
Sumarsono
|
|
Setaria2 - Centro
|
-
|
4,36
|
2,62
|
6,98
|
176,45
|
(1983)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jg - sendiri
|
1,95
|
3,17
|
-
|
3,17
|
-
|
Sumarsono
|
|
Jg - Lamtoro
|
2,28
|
2,83
|
1,13
|
3,96
|
324,97
|
(1985)
|
|
Jg - Stylo Cook
|
3,30
|
3,80
|
0,96
|
4,75
|
123,37
|
|
|
Jg - Stylo Verano
|
2,11
|
3,67
|
3,73
|
7,40
|
499,53
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Lamtoro - sendiri
|
-
|
-
|
8,77
|
8,77
|
253,18
|
Sumarsono
|
|
Jg - Lamtoro1
|
3,40
|
2,78
|
4,36
|
7,14
|
136,86
|
(1989)
|
|
Jg - Lamtoro 2
|
3,30
|
3,32
|
5,95
|
9,27
|
180,76
|
|
|
Jg - Sendiri
|
6,76
|
5,81
|
-
|
5,81
|
-
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
c. Transfer
Hasil Fiksasi Nitrogen
Dalam pertanaman campuran rumput dan leguminosa, fungsi
utama leguminosa adalah sebagai sumber hijauan makanan ternak yang berkualitas
tinggi dan hasil fiksasi nitrogen dari udara dapat tersedia bagi rumput yang
tumbuh bersamanya (Middleton, 1981).
Bukti-bukti telah banyak dilaporkan bahwa tanaman non leguminosa
menunjukkan kenaikan kandungan nitrogen apabila ditumbuhkan bersama tanaman
leguminosa (Whitney dan Kanehiro, 1967; Whitney dan Green, 1969; Agboola dan
Fayemi, 1972). Menurut Virtanen (1963),
hasil fiksasi nitrogen oleh tanaman leguminosa sebagian dirembeskan ke media
tumbuhnya. Sedangkan menurut Whitney dan Kanehiro (1967), pada leguminosa yang
tumbuh merayap, bagian daun yang gugur lebih penting sebagai sumber penambahan
nitrogen tanah daripada pencucian bagian tanaman atau lepasnya bintil dan akar
akibat tindakan defoliasi.
Menurut
Henzell dan Vallis (1975), cara mempertinggi transfer hasil fiksasi nitrogen
adalah menggunakan tanaman leguminosa sebagai pupuk hijau, atau mengembalikan
sebagian nitrogen kotoran ternak karena tanaman leguminosa digunakan sebagai
hijauan pakan (Whitehead, 1970). Permasalahannya adalah bahwa kebanyakan
tanaman biji – bijian yang tumbuh tinggi akan menaungi leguminosa yang tumbuh
bersama dibawahnya, akibatnya laju fotosintesis dan kemampuan fiksasi nitrogen
juga turun (Lawn dan Brum, 1974; Wahua dan Miller, 1978c ).
Ternak
yang digembalakan pada pastura campuran rumput dan leguminosa mengembalikan
sebagian nitrogen dari hijauan yang dimakan ternak melalui kotoran ternaknya
(Whitehead, 1970). Disinilah secara teoritis dimungkinkan bahwa nitrogen hasil
fiksasi oleh leguminosa dikembalikan ke tanah dan diserap oleh rumput.
Sedangkan menurut Whitney dan Kanehiro (1967), tanpa penggembalaan ternak juga
terjadi transfer nitrogen dari leguminosa kepada rumput dalam pastura campuran
tersebut. Peneliti disini menyimpulkan menyimpulkan bahwa pada Desmodium intortium dan Centro, bagian
daun yang gugur lebih penting sebagai sumber transfer nitrogen dibandingkan
pencucian bagian hidup tanaman atau lepasnya bintil dan akar akibat defoliasi.
Transfer nitrogen umumnya sangat kecil pada awal pertumbuhan leguminosa,
selanjutnya sangat tergantung dari frekuensi dan intensitas defoliasi, ada
tidaknya hewan dan iklim yang mempengaruhi imbangan antara fiksasi nitrogen dan
fotosintesa (Whitehead, 1970).
Sudah
lama Vicente – Chandler, Figarella dan Caro-Costas (1953), menyimpulkan adanya
hubungan positif antara produksi kudzu tropis (Pueraria phalseloides) dengan kadar protein kasar rumput mollasses
(Mellinis minutiflora). Produksi
rumput tidak akan tertekan oleh peningkatan produksi leguminosa di dalam
pertanaman campuran tersebut, karena peningkatan produksi leguminosa berarti
peningkatan hasil fiksasi nitrogen udara (Whitney et al, 1967).
Hasil
penelitian Whitney dan Green (1979), rumput pangola (Digitaria decumbens) yang tumbuh bersama Desmodium canum adalah setara dengan pemupukan 240 kg N/ha/tahun,
apabila bersama Desmodium intortum
setara dengan pemupukan 525 kg N/ha/tahun. Transfer nitrogen disini
diperkirakan sebesar 33% pada D. canum,
dan 20% pada D. Intortum. Menurut Akinola (1981), transfer nitrogen leguminosa
Centro 52% pada pertanaman campuran Centro dengan rumput signal (Brachiaria decumbens).
Menurut
hasil penelitian Soedarmadi (1977) di Filipina, juga Sumarsono (1983)
leguminosa secara nyata meningkatkan produksi bahan kering dan menekan kadar
serat kasar. Centro yang digunakan disini meningkatkan kadar protein kasar,
tetapi pada presentase leguminosa Centro 27,41% belum diperoleh peningkatan
produksi protein kasar yang nyata.
BAB III
KESIMPULAN
1.
Pertanian
berwawasan lingkungan mengembangkan
sistem pertanian yang spesifik lokasi berdasar kondisi agroekosistem penting
pada usaha tani lahan kering yang banyak
terletak pada daerah berlereng dengan masalah erosi tanah.
2.
Tindakan
manusia terhadap tanah dan tanaman akan menentukan produktivitas tanah sehingga
perlu mencegah dan melindungi tanah dari segala bentuk kerusakan, agar dapat
diperoleh produksi yang tetap tinggi yang berkelanjtan.
3.
Pengembangan
sistem pertanaman perlu melibatkan sumberdaya tanaman pakan sehingga ternak
menjadi sumber tambahan pendapatan, kotoran sebagai pupuk organik dan
memanfaatkan limbah tanaman pertanian sebagai pakan.
4.
Intervensi
tanaman pakan dalam sistem pertanaman melalui pengaturan pola tanam tidak
menekan hasil tanaman utama dalam sistem tumpangsari dengan melibatkan
leguminosa tanaman pakan yang sekaligus berfungsi sebagai penutup tanah.
5.
Efektivitas
transfer hasil fiksasi nitrogen dengan menggunakan tanaman leguminosa sebagai
pupuk hijau, atau mengembalikan nitrogen dari kotoran ternak karena tanaman
leguminosa digunakan sebagai hijauan pakan bersama jerami tanaman pangan.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Agboola, A. A. dan
A. A. A. Fayemi, 1972. Fixation and
ecretion of nitrogen by tropical legume. Agron. J. 64 (4) : 409-412
Ahmed, S. dan N.
R. Rao, 1982. Performance of maize soybean intercrop combination in the tropics
result of a multi location study. Field
Crop Res. 5 : 147-161.
Beets, W. C.
1982. Multiple cropping and
Tropical Faring System. Grower Pub. Co.
Ltd., Aldershot..
Donald, C. M. 1963.
Competition among crop and pasture plant. Adv. Agron. 15 : 1 – 118.
Francis, C. A. , M. Prager and G. Tejada. 1982.
Density interactions in tropical intercropping. I.
Maize (Zea mays L) and
climbing bean (Phaseolus vulgaris L)
Field Crops Res. 5 : 163-176.
Henzell, E. F. dan I. Vallis. 1975. Transfer of nitrogen between legume and other
crops. In A. Ayanaba and P. J. Dart
(Ed). Biological Nitrogen Fixation in
Farming System of Tropics. IITA. Johm Willey and Son, Ibadan.
Humphreys, L. R.
1979. Tropical Pasture and Fodder
Crops. ITAS, Longman Group Ltd., London
Helsel, Z. R. dan
W. F. Wedin. 1981. Harvested dry matter from single and double
cropping system. Agron. J. 73 : 895-900.
Kang, B. T., G. F.
Wilson dan Sipkens. 1981. Alley cropping maize (Zea mays L) and Leucaena (Leucaena
leucocephala Lam) in southern Nigeria.
IITA, Ibadan.
Middleton, C. H.
1981. The role of legume in
legume-grass pasture in the wet tropics.
Trop. Grassl. 15 (2) : 119-120.
Mendoza, R. C., L. R. Escano and E. Q. Javier. 1981.
Corn leucaena intercropping trial.
Leucaena Res. Report. 2 : 42-44.
Ofori, F. dan W.
R. Stern. 1987. Cereal-legume intercropping system. Ad. Agron. 41 : 41-89..
Saragih, B. 2000. Agribisnis, Paradigma Baru Pembangunan
Ekonomi Berbasis Pertanian. Yayasan
Mulia Persada dan PT Surveyor Indonesia, Jakarta.
Soeriatmadja, S.
1981. Ilmu Lingkungan. Penerbit ITB, Bamdung.
Shelton, H. M.
dan L. R. Humphreys.
1979. Undersowing rice (Oriza sativa) with Stylosanthes
guyanensis. Expl. Agric. 11 : 89-111.
Sitanala, A. 1983.
Pengawetan Tanah dan Air.
Departemen Ilmu-Ilmu Tanah, Faperta IPB, Bogor (tidak dipublikasikan).
Sutanto, S. 2002.
Pertanian Organik. Menuju
Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan.
Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Soedarmadi,
H. 1977. Persistence of overseded Legume into Guinea
Grass (Panicum maximum Jacq) Pasture
and their Effect on Herbage Yield and Quality.
Thesis MS. UPLB, Los Banos.
Sumarsono.
1983. Pengaruh Pupuk TSP, Pupuk
Kandang dan Interval Pemotongan terhadap Produksi dan Kualitas Hijauan
Pertanaman Campuran Setaria splendida Staft dan Centrosema pubescens
Benth. Thesis S2 Fakultas Pasca Sarjana IPB., Bogor.
Sumarsono, 1985.
Studi Pola Tanam Tumpangsari Tiga Jenis Tanaman Hijauan Makanan Ternak
dengan Varietas Tanaman Jagung Hibrida C1.
Laporan Penelitian. Fakultas
Peternakan UNDIP, Semarang.
Sumarsono, 1989.
Pengaruh Kepadatan Populasi Lamtoro (Leucaena
leucocephala (Lam) de Wit) Cunningham terhadap Hasil Hijauan dan Jagung (Zea mays L) pada Dua Pola Tanam
Tumpangsari. Disertasi Doktor. Fakultas Pasca Sarjana IPB, Bogor.
Sumarsono. 1997. Simbiotik bakteri rhizobium tanaman legum
lamtoro pada dua jenis tanah dengan peningkat kesuburan pupuk kandang. Prosiding Seminar INMT – AINI., Bogor.
Sumarsono.
2001. Hasil hijauan setaria (Setaria
splendida Staft) dalam pertanaman
campuran dengan sentro (Centrosema pubescens) yang menerima pupuk fosfat
dan kotoran ternak. J. Pengemb. Pet.
Trop. Special Ed.: 129-136.
Widjajanto, D. W. dan Sumarsono. 2005.
Pertanian Organik. Badan Penerbit
UNDIP, Semarang.
Yakin, A. 1997. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan. Akademika Persindo, Jakarta.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar